Pada sebuah kampung, hiduplah seorang petani sederhana. Beristri,
beranak, beranjing satu. Istrinya tidak cantik, anaknya tidak
gagah,anjingnya jenis anjing kampung biasa.
Kehadiran anjing dalam keluarga itu, menciptakan kecemburuan.Istrinya,
Lla, sering ngomel, karena sepertinya Pajatu-- sang suami lebih bangga
dan sayang pada anjing daripada kepada Imron, anak mereka yang berusia
tujuh tahun. Imron sering menendang anjing ketika ayahnya sedang ke
sawah lantaran kesal. Anjingnya sering bertingkah ketika dekat tuannya
yang rajin bertani itu.
Suatu petang, Pajatu, Lla dan anak serta anjingnya berkumpul di teras.
Pajatu mengelus-elus anjing, anjing menujulur-julurkan lidah ke arahLla
yang tengah mengusap-usap rambut Imron. Ibu dan anak duduk
berhadap-hadapan dengan ayah dan anjing.
"Anjing ini pintar dan baik. Ia tak penggigit, tapi menyalak ketik ada
orang tak dikenal ke rumah kita, terutama di malam hari," kata Pajatu.
Ibu dan anak diam saja.
"Pak Camat menawar anjing ini satu juta rupiah, tapi aku tak mau jual.
Sebab, itu artinya ia melihat ada apa-apanya dengan anjing ini. Aku
tahu, Pak Camat itu orang pandai soal anjing," Pajatu menepuk-menepuk
bangga sang anjing.
"Imron ditawar seratus juta juga aku tak mau jual," sungut
istrinya,sambil berdiri diikuti Imron. Ibu dan anak masuk lalu ke kamar.
Pajatu terkekeh.
"Samuik, kau bikin mereka cemburu, ya!" kata Pajatu kepada
anjingnya,yang diberi nama Samuik. Diberi nama Samuik, lantaran ragi
kulit anjing persis coklat semut api.
***
Pagi-pagi sedang asyik memandikan anjing di bandar aliran air
kesawah-sawah, Pak Juar, supir Pak Camat datang menemui Pajatu. Pajatu
senyam-senyum mengetahui gelagat utusan camat untuk merayunya menjual
Samuik. Tapi, Pajatu malah berkilah dengan manis.
"Wah, ini anak saya selain Imron lo Pak Juar," kata Pajatu.
"Dia akan beli satu setengah juta rupiah. Lebih tinggi dari kemarin. Mau, kan?"
"Pokoknya nggak jual. Cuma ini kebanggaan saya. Kadang lebih
membanggakan dari Imron. Bayangkan, selain gagah dan pintar berburu
babi, ia juga penjaga rumah yang baik. Kalau lagi capek pulang dari
sawah, Samuik bisa diajak gurau," Pajatu tertawa kecil sambil menyabuni
anjing kesayangannya dengan sabun yang sering diiklankan oleh bintang
film cantik ternama. "Berak pun tak mau sembarangan. Teratur. Pagi-pagi
di tempat khusus," timpal Pajatu dengan hidung sedikit kembang kempis.
Pak Camat tertarik dengan anjing Pajatu, karena tuah peburu
dimilikiSamuik. Salaknya babegu, kata orang ngerti mistik anjing.
Sepertiberhantu. Kera yang di pohon pun bisa terjatuh kaget dengar
salaknya.Padahal anjing itu ia dapat sedang terkengkeng di dekat
semak-semakwaktu masih kecil. Karena kasihan, dipelihara Pajatu. Setelah
besar,membanggakannya.
Waktu anjing-anjing dilepas berburu, Samuik serta di dalamnya. Daya
kejarnya tiga lurah tiga bukit. Ia kembali ketika mulut sudah berkubang
darah babi. Di hadapan pemburu lain, Pajatu bangga sekali.Pak camat,
orang mengerti anjing bagus, naksir pada punya Pajatu.
"Atau tukar bulu. Maksudnya, anjing ini ditukar dengan punya Pak Camat dan ditambah uang lima ratus ribu perak," tawar Pak Juar.
Pajatu menggeleng.
"Wah, nggak mau juga, ya. Tapi, hati-hati lho. Kadang kayak burung juga.
Kalau burung sudah diminati orang, kita tak mau jual, dia mati sendiri.
Anjing juga bisa begitu," Pak Juar agak menakut-nakuti Pajatu.
"Itu kan burung. Anjing beda. Justru kalau dijual bisa sedih,
sakit-sakitan, lalu mati. Sebab, induk semangnya, tuannya itu aku.Kalau
dia mati pisah denganku, bisa-bisa rugi lo Pak Camat," kata Pajatu
dengan gayanya yang polos.
Akhirnya Pak Juar pergi begitu saja. Pajatu melepas dengan senyum bangga. Anjing ini ternyata menaikkan martabat, pikirnya.
Selesai memandikan anjing pagi itu, Pajatu membawanya pulang. Sambil
mengibas-ngibaskan kepalanya, Samuik berputar-putar di sekitar
kakituannya yang memegang rantai agak dikendurkan.
Berjalan dengan anjing, Pajatu penuh bangga. Ia selalu senyum setiap
berpapsan dengan orang. Bahkan, begitu ramahnya ia menyapa orang yang
berpapasan. Bayangkan, anjingnya bertelinga tegak, peka terhadap
suara-suara sehalus apa pun. Matanya memerah saga. Sedangkan ekornya
cenderung naik ketika berjalan dan merendah waktu berlari. Keningnya
penuh kerenyut, seakan ada mangsa segar dipikirannya. Lalu, kalau
iaberdiri, tampak sebagai anjing ia memiliki kaki dengan kuda-kuda
yangkokoh serta dada berdegap. Semua tuah pada Samuik, adalah idaman
para pecinta anjing, para pemburu.
Cuma, sayangnya, ada yang membuat Pajatu agak kecewa. Sebab, kalau
dirumah Samuik bagai anak tiri oleh istri dan Imron. Kalau Pajatu tak
dirumah dan Samuik ditinggal, maka malanglah nasib si anjing. Imron
kadang menjepretnya dengan karet sehingga anjing itu terkelenjek kaget.
Pesan agar jangan lupa memberi Samuik makan, sengaja dilupakan.Bahkan
tak jarang anjing itu menggongong berkepanjangan. Karena memekakkan
telinga, ia malah ditendang Imron atau Lla.
Padahal, kalau sama Pajatu, anjing Samuik makannya istimewa. Terutama
menjelang berburu. Malamnya, sebelum esok berburu, Samuik diberi dua
butir telur itik, paginya dikocokkan Supradyn campur telur. Kalau
dihari-hari biasa, Pajatu dapat ayam mati sakit, ia gembira sekali. Ayam
itu dibersihkan, dipanggang lalu diberikan pada Samuik. Samuik
lahap,dan meningkahi tuannya dengan kaki depannya sedikit terangkat
manja.
Suatu hari, Imron diam-diam menyeret kasar Samuik jauh dari rumah.
Setelah dekat ke pinggir hutan, anjing itu dilepas setelah lebih dulu
dilangkang pakai kayu. Anjing kesayangan ayahnya lari terkengkeng.Dengan
hati puas, Imron pulang. Mungkin karena takut, sampai lewattengah hari
Samuik tak pulang-pulang. Barangkali ia takut Imron akan menyakitinya
lagi.
Tapi, baru saja Pajatu sampai di rumah sore-sore, Samuik pun muncul
tiba-tiba dengan mencium-cium kaki tuannya. Sepertinya tahu kapantuannya
kembali untuk menjadi tempatnya berlindung. Pajatu jongkok,dan menepuk
lunak kening Samuik. Namun, tiba-tiba Pajatu seperti tersengat
kalajengking ketika dilihatnya kulit anjing itu ada luka gores.
"Llaaaaaa…, Imron…..! Sini!"
Ibu dan anak yang kebetulan lagi asyik dengar dangdut di radio, keluar beriringan.
"Kalian apakan Samuik? Kenapa ia dilepas. Bukankah tadi kuikat," suara Pajatu meninggi.
"Ia kulepas karena ribut terus. Habis kau pergi tak bawa-bawa dia. Dia
protes, seperti Imron waktu kecil menangis ketika tak kubawa ke pasar,"
jawab Lla agak sengit.
"Kenapa sampai terluka. Pasti kalian memukul atau melemparnya!" Pajatu
mulai naik darah. Imron menatap ibunya, lalu menunduk agak takut. Sang
anjing menjulur-julurkan lidahnya agak mendongak, seakan ia membenarkan
tuduhan tuannya.
"Imron, ke sini!" Imron diam di tempat, merapat ke ibunya.
"Imron!" Pajatu membentak hebat.
"Kamu apakan anjing ini?!"Imron diam, mengkerut.
"Pasti kamu yang memukulnya atau melemparnya. Ngaku!" Pajatu menjewer
telinga Imron, dan Imron menangis minta ampun. Lla sebagai ibu, tak sudi
melihat Imron dibegitukan.
"Bukan Imron yang melakukannya. Tapi, aku…." Lla berdusta, membela Imron.
"Apa?" Pajatu melebarkan kelopak matanya, melotot marah.
"Anjing itu besar kepala. Kau selalu memanjakannya…."
"Tapi dia tak mengganggumu, tidak merugikan kita, bukan. Malah,martabat
keluarga kita sedikit lebih naik karena Samuik, anjing coklat ini. Semua
orang di kampung ini menggunjingkan kita, punya anjing diminati Pak
Camat, malah ditawar harga jutaan. Kalau bukan karena anjing ini, mana
mungkin Pak Camat sudi mampir ke rumah kita," SuaraPajatu membahana. Lla
agak surut, apalagi melihat mata suaminya menyala bak anjing gila yang
siap menerkam. Cepat-cepat ia mencekal tangan Imron, menjauh dari
penyayang anjing yang sedang marah.
Sementara itu, Samuik menggonggong pendek-pendek mengarah ke Lla dan Imron yang hilang di balik pintu.
***
Anjing coklat itu baru saja diberi obat merah. Pajatu banyak
diam.Agaknya ia kecewa pada istri dan anaknya yang tak turut sayang
serta bangga pada Samuik. Padahal Samuik bersih, padat, makannya
teratur,diberi susu. Bahkan lagi, ada disuntik oleh dokter hewan
langganan Pak Camat. Apa salah Samuik, begitu kira-kira protes Pajatu
dalam hati.
Imron murung di sudut kamar. Ia makin sedih dan kecewa pada ayah.
Apalagi, mengingat tiga hari lalu. Ia kebetulan mendapatkan sepotong
roti. Roti itu ia makan, lalu ketahuan ayah. Ayahnya marah, karenaroti
diberi Pak Juar dari Pak Camat untuk Samuik. Begitu juga ketika ia
menghabiskan susu kental manis yang kebetulan tinggal sedikit.Ternyata
susu itu juga disisakan Pajatu untuk anjing. Telinganya dijewer. Ia
selalu di bawah anjing.
Lla tak habis pikir, kenapa makin hari suaminya makin sayang pada anjing
dari pada kepada Imron. Bangun tidur, Samuik diurus. Mau kesawah,
Samuik dipesani untuk dijaga. Sore hari, Menjelang tidur,
samukdielus-elus. Kadang, ketika seranjang, Lla merasa disetubuhi oleh
anjing, karena erangan nikmat suaminya terasa bak suara Samuik yang
baginya menjijikkan.
Tak jarang, pertengkaran di rumah petani sederhana itu dipicu
karenaanjing. Masalah ini diketahui tetangga. Akhirnya Pak Camat melalui
PakJuar, supirnya itu juga tahu.
"Sepertinya anjing Pak Pajatu ini membawa masalah dalam rumah
tangga.Jual saaja atau titipkan saja sama anjing-anjing Pak Camat yang
setiapMinggu dibawa ke perhelatan buru babi. Gimana?" kata Pak Juar,
dihadapan istrinya.
Belum sempat Pajatu menjawab, istrinya memintas, "Tak apa. Itu
lebihbaik. Hari-harinya habis untuk anjing sialan itu. Jijik aku!"
"Diam!" Pajatu membentak istrinya.
Pak Juar geleng-geleng kepala, lalu pamit seraya minta dipertimbangkankeinginan Pak Camat.
***
Kalau ada anjing yang hidupnya beruntung, Samuiklah salah
satunya.Dibuatkan kandang, dibelikan geleng leher dari kulit dan rantai
yang baik mutunya. Padahal, sepatu dan baju seragam Imron sudah
lepasjahitannnya dan kusam lagi-- tak pernah digubris.
Imron hari ini bangun lebih awal dari ayah dan ibunya. Semalam ia mimpi,
ayahnya menambah seekor anjing lagi. Dua ekor anjing itu sangat
disayang oleh ayahnya. Bahkan ditidurkan satu kamar dengannya.
Pelan-pelan sebelum azan subuh, Imron melangkah keluar biliknya. Iabuka
pintu, menuju kandang anjing. Sayup-sayup terdengar salak Samuik.Lalu
hilang, dan sunyi.
Lla bangun, langsung ke sumur. Pajatu mengeliat, ketika di dapur istrinya menanak nasi untuk sarapan suaminya sebelum ke sawah.
Pagi terang-terang tanah. Pajatu melangkah dengan kuap menggantung. Ia
terheran pintu sudah terbuka. Agak curiga, jangan-jangan ada
maling.Tapi, tak mungkin. Kan Samuik selalu menyalak kalau ada yang
datang selain dari keluarganya.
Ia coba melongok ke bilik Imron. Ah, si Imron rupanya. Kemana ia bangun pagi-pagi sekali, pikirnya.
Persyetan juga akhirnya. Pajatu ingin menemui Samuik. Di dekat kandang
Samuik, di salah satu tonggak rumah kayunya itu, ia terkejut
hebat.Biasanya disambut salak manja anjingnya. Tapi, kali ini, ya
Tuhan,sangat mengejutkan.
Imron duduk bagai anjing dengan lehernya terikat rantai yang biasanya
dipakai Samuik. Lidahnya dijulur-julurkan, menirukan gaya anjing.
"Ngapain kamu Imron?!" suara Pajatu meninggi, agak parau. Belum kumur-kumur.
"Imron ingin menjadi anjing, biar disayang Ayah!" Pajatu terperanjat,
hatinya bagai disergap beribu-ribu taring anjingyang tajam.
Saat itu, serta merta terdengar Imron menyalak ke arah ayahnya, "Guk….Guk…, guk!***
← Prev


0 komentar:
Posting Komentar